Ini tahun keenam aku melingkari sebuah angka dalam tiap Desember di kalender-kalenderku. Selamat ulang tahun, bulan dalam semestaku. Di handphone ini, tersimpan rapi ucapan yang kiranya ingin kukirim segera. Di meja belajarku, sketsa-sketsa sederhana menyelip di antara soal matematika.

Sketsa-sketsa ini merekakan wajahmu dalam pena. Dengan mata yang menatap horizon tak bertepi. Atau menatap apa saja. Asal tidak padaku, yang merasa hina membuat matamu seolah menatap pelukisnya. Asal tidak padaku, yang terpacak kakinya di atas bumi, silau memandangi bulan pada langit yang kucipta sendiri.

Entah kapan saat itu nyata. Tapi aku pernah berikrar, satu waktu akan keketuk pintu rumahmu, dan kutaruhkan nasib sketsa-sketsa ini di tanganmu. Atau bisa juga kutitipkan temanmu. Atau kurir ekspedisi. Atau mungkin lewat mimpi. Karena mereka kutakdirkan hanya menjadi milikmu. Cukup mereka. Sebab takdir hatiku, rupanya tak mampu terbang setinggi bulan. Setinggi kamu.

Bulan dalam semestaku. Pada akhirnya, takdir yang tergariskan, menjadikanku seterusnya budak dalam mimpi. Dan mimpiku tak bernyali.

Di sebuah dini hari di Desember yang datang lagi..

Bisa kubilang, Helen lebih dari sekedar teman kecilku. Aku tidak yakin apakah dia merasakan kedekatan yang sama. Tapi sangat bisa terlihat bahwa sikapnya padaku cukup terbuka. Biasanya, ketika perawat-perawat kehabisan akal untuk membuatnya berkomunikasi, aku datang menghampirinya. Aku akan duduk di sampingnya, yang sedang mendekap boneka monyet yang kumal. Sulit sekali mengambil benda itu dari tubuhnya.

Ia akan duduk di kursi yang sama berjam-jam, menatap kosong pada pagar putih berujung lancip di depan kamar-kamar pasien. Ia adalah makhluk normal di tempat ini, jika normal adalah definisi dari “yang pada umumnya”. Tingkah lakunya senormal pasien-pasien lain. Laku yang majenun. Bibir yang terkatup rapat. Sebagian yang malah tidak bisa berhenti menjerit-jerit. Asyik menatap obyek yang sama berjam-jam. Atau berjalan tanpa henti mengelilingi taman rumah sakit sambil menertawakan temannya sendiri.

Pasien-pasien itu sakit jiwa. Yang membedakan Helen dari mereka adalah, ia tak hanya sakit pada jiwanya. Hatinya remuk. Raganya kalah. Ia dikirim ke tempat ini sekitar dua tahun yang lalu, saat ia berusia delapan tahun. Si gadis keriting, kami biasa menyebutnya. Kulitnya putih. Badannya kecil. Lengan kurus dengan jari-jari yang lembut. Mata besar membuat wajah cantiknya terlihat mungil. Jika Zeus dari Yunani sungguh nyata, mungkin ialah Helen sang legenda.

Kabarnya, hari pertama ia datang, sungguh mengenaskan. Bukan karena tingkah laku wajar orang yang terganggu jiwanya, yang senang menyakiti diri sendiri, atau malah senang menyenangkan diri sendiri. Kondisinya mengenaskan justru karena ketenangannya. Ia mematung seperti boneka. Sungguh seperti boneka Susan dalam kereta bayi yang biasa kau temui di ruang praktik dokter anak. Tak ada apapun yang bisa mengusik diamnya.

Satu hal yang mengerikan terlihat pada tatapan mata yang tajam. Tatapan yang jelas menyimpan dendam. Jika kau mengajaknya bicara, kau tidak akan bisa membuatnya menatapmu. Sekalipun seolah mata kalian bertemu, namun sorot matanya kosong. Seperti orang mati yang kau buka kelopak matanya.

Ia tidak bisa bicara. Tak pula berkomunikasi dengan bahasa apapun. Aku sering berpikir, mungkinkah ia sengaja menolak bicara? Menolak berkomunikasi? Pertanyaan ini yang membuatku merasa selalu ingin mendekatinya. Aku merasa ia tidak sama dengan pasien lain. Ia diam. Mendendam. Menumpuk kemarahan dalam hati. Mengunci mulutnya. Dan terus menerus menatap obyek kemarahan itu dalam khayalan. Itu mungkin sebab ia tak bisa berkomunikasi, sekalipun lewat pandangan mata.

Kebekuannya melunak mulai enam bulan yang lalu. Dan bukti bahwa kami dekat, adalah bahwa aku selalu ia terima menjadi teman yang duduk di bangkunya. Penerimaan ini berupa kerelaannya melepas satu tangan yang sebelumnya mendekap boneka monyet, untuk menggenggam tanganku. Dulu aku selalu mengusap-usap punggung tangannya yang terkunci di tubuh boneka monyet itu. Aku hanya berharap suatu saat ia mau menganggap bahwa tanganku bukan tangan jahat seperti yang ditakutinya. Lama kelamaan, genggaman tangannya mengendur, memberi jari-jariku ruang untuk memeluk telapak tangannya yang basah oleh keringat. Beberapa waktu kemudian, ia mulai terbiasa dengan tanganku. Ia senang membawa tanganku menangkup wajahnya yang mungil. Entah apa yang dipikirkannya. Namun selama ia merasa nyaman dengan diriku, akan mudah bagiku untuk berusaha berkomunikasi lebih jauh dengannya.

Hari ini, setahun setelah aku pertama kali mengenalnya, ia masih juga belum mau bicara. Kami hanya duduk berdua, dengan tangan kananku yang memeluk pundaknya dan tangan kiriku yang menggenggam kedua tangannya. Aku mulai berceloteh riang tentang perjalananku ke tempat ini. Tentang beberapa jalan yang mulai macet di Jogja. Tentang ramalan cuaca amatirku, bahwa esok tak mungkin turun hujan lagi, karena hari ini sudah terlalu banyak air yang turun dari langit. Aku hampir menceritakan semuanya, kecuali pertengkaranku dengan Bian karena keinginanku untuk mengadopsinya. Tiba-tiba perawat bernama Gina menghampiriku.

“Mbak Rima, ada yang nyariin Helen di ruangannya Bu Bekti. Saya pinjem dulu Helennya ya,” katanya padaku.

“Siapa Mbak? Dokter juga?”

“Bukan Mbak. Ada tiga orang tadi. Dua orang ibu-ibu, sama dua orang bapak-bapak.”

Keluarganya? Mungkinkah? Kata para perawat, dulu Helen diantar ke tempat ini oleh seorang perempuan yang mengaku sebagai tetangganya. Si perempuan bilang, Helen diasuh oleh keluarganya setelah sebuah kebakaran memisahkan Helen dan orang tuanya secara duniawi. Kondisi kejiwaan Helen yang mulai gawat membuat mereka tak sanggup lagi merawatnya.

Read the rest of this entry »

Perpisahan pernah mendewasakan kita.

Kereta yang akan membawamu sudah tiba. Dulu, saat peron Stasiun Tugu masih mengijinkan para pengantar menikmati pertemuan terakhir mereka, kita sering duduk di salah satu bangkunya. Kau lebih sering menjadi sang pengantar. Dan penjemput tentunya. Wajahmu tenggelam dalam lembar-lembar koran. Aku mendekap ranselku sambil sesekali mencuri baca lembar di balik wajahmu. Sesekali pula aku merebut koranmu.

“Kamu baca yang halaman Jogja dulu aja. Aku mau baca headline,” begitu rajukku yang tentu sudah kau hafal baik.

Sejak peron menyekat sang pengantar atau penjemput dan sang diantar atau dijemput, kita lama tak masuk ke tempat ini. Kecuali sekedar lewat, atau menghabiskan malam di luar pagar, di mana kau menikmati segelas kopi joss yang aku sama sekali tidak doyan. Sepertinya aku mencintai kopi dengan pretensi. Aku tak bisa menyukainya seapa-adanya aku menyukaimu. Aku hanya cinta kopi yang higienis. Yang tidak melibatkan benda asing seperti arang atau bir.

Sekalipun aku kembali memakai jasa kereta untuk pulang tiap minggu, kau hanya mengantar hingga depan pintu stasiun yang menghadap Jln. Mangkubumi. Membantuku menurunkan ranselku, dan mengenakannya di punggungku dengan hati-hati. Lalu aku menyaksikan punggungmu menjauh, sebelum merasakan tanganmu yang entah itu mengusap wajahku, mengacak rambutku, atau menepuk bahuku. Seperti kakak pada adiknya.

Hari ini kali pertama sejak sekian lama kita tidak masuk ke halaman Stasiun Tugu. Bicara tentang kali pertama, kau tentu ingat hari-hari pertama aku dekat denganmu. Saat kau membawaku jalan-jalan ke stasiun. Menghabiskan semalaman mengobrol tentang apapun di lantai peron. Kereta demi kereta melewati kita. Kita saling menebak profesi orang-orang yang berjalan di depan kita.

Begitu seterusnya, hingga tiba giliranku melepasmu. Kenyataan bahwa akulah yang sering menjadi yang meninggalkan, membuatku sangat berat menjadi yang sebaliknya. Entah apa kau bisa merasakannya. Tapi, menyaksikanmu mengemas barang-barangmu dalam koper, menatap wajahmu untuk yang terakhir kalinya sebelum kita melangkah keluar dari kamar kostmu, mengantarmu sampai bandara atau stasiun dan duduk menanti waktu itu tiba, sungguh seperti menanti pisau guillotine jatuh di atas leherku. Di koper itu, ada harapanku yang menanti hatimu kembali seutuhnya. Seutuh-utuhnya.

Namun aku yang gemar berteori, punya teori pula tentang hal ini. Tak selalu isi koper yang kau bawa saat berangkat, sama seperti yang kau bawa saat engkau pulang. Bisa bertambah sesak, atau bahkan berkurang banyak. Apapun itu, jarang sekali ia kembali dengan sepenuhnya kosong. Selalu ada yang tersisa di dalamnya. Dan selalu, kembali kepadamu apapun keadaannya.

Dan aku menerimamu.

Kita menjadi salah satu saksi kekejaman perpisahaan. Yang bisa kau lihat jelas di tempat-tempat kaya emosi seperti bandara atau stasiun.

Di tempat ini, jika kau mau merenung sebentar saja, dan melihat pada sekelilingmu, kau akan menyaksikan bahwa kebahagiaan atau kesedihan itu bukan hanya benda gaib, tapi nyata, berwujud dan indah. Aku pernah melihat sepasang kekasih yang saling meggenggam jari-jari mereka meski pagar peron menyekatnya. Di antara besi-besi pagar itu, bagaikan kekasih yang terpisah jeruji, mereka diam menghayati rindu yang akan mereka jalani. Entah untuk berapa hari, atau mungkin tahun. Petugas stasiun sudah memperingatkan bahwa kereta akan berangkat, namun si pemuda enggan beranjak. Sang wanita tersenyum padanya, meyakinkan kerelaannya. Untuk menenangkannya, si pemuda mencium bibirnya dengan lembut. Tak peduli orang-orang ada di sekitarnya, yang sepertinya juga terlalu sibuk dengan perpisahan mereka.

Seperti hari ini, saat keretamu belum berangkat. Kita masih di luar pagar, di ujung trotoar area pejalan kaki. Tentu tidak ada bangku di sini. Maka kita duduk di tempat seadanya. Dua orang teman yang ikut mengantarmu, tengah asyik dengan obrolan mereka. Perpisahan di hari itu sungguh bisa aku terima. Sungguh lapang hatiku menahannya. Perpisahan-perpisahan, telah mendewasakan kita.

Sampai ketika kau mendekapku.

Lalu aku merasa kita melangkah sedemikian jauhnya, mempersiapkan diri untuk perpisahan-perpisahan yang pasti akan terjadi, untuk membuatku mengerti, bahwa hatiku pernah salah mengerti. Aku menyayangimu. Aku yakin tak ada seorang pun di hati kita yang bisa tergantikan. Entah itu kekasih, orang tua, kakak, adik, saudara kembar, atau satu-satunya sahabat yang tau siapa yang kau sukai diam-diam. Aku yakin itu. Tapi kali itu, adalah saat aku juga punya teori lain tentang kita. Kau tak akan bisa tergantikan, dan tak akan bisa aku tempatkan nama lain, sejajar di sisi namamu.

Kau bahkan tak perlu menyanyikanku bait lagu Payung Teduh, yaitu Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan. Yang lirik mautnya menghujam hati perempuan manapun. Bukan hanya karena kau tak pernah bisa menghafal lirik lagu. Tapi juga karena dekapmu yang nyata, ada, dekat, terjangkau dan penuh kasih. Yang sungguh bisa menenangkanku.

Aku selalu hanya butuh pelukanmu untuk membuat semuanya terasa kembali baik-baik saja. Bahkan saat aku ragu dengan kita, dan mengatakan teori lain yang kubuat-buat, yang tentu menyakitimu, atau mungkin membuatmu mendendam dan aku bahkan akan merelakannya. Dan pelan, kau membisikkan kalimat “Kau boleh pergi.” Lalu kau memelukku lagi. Dan semuanya terasa baik-baik saja. Seakan tanpa lubang yang pernah menganga.

Keretamu berangkat sebentar lagi. Aku menyuruhmu bergegas. Kau genggam tanganku dan mencium keningku. Dan perpisahan itu berlalu begitu saja. Entah apa yang akan terjadi pada dua kali lipat lamanya dari pertama kita bertemu nantinya. Semoga ibukota tak jahat padamu. Dan padaku.

Tak terasa gelap pun jatuh
Diujung malam menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya

(Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan – Payung Teduh)

*Untuk kau yang selalu menganggapku cantik, bahkan saat aku sedang flu atau acak-acakan. Dan dengan begonya aku percaya.

Kau akan tau pada saatnya. Jika antara kau dan pangeran dalam kastilmu, menyekat dinding yang mengangkasa. Pintu yang terkunci abadi. Lantai yang menggelincirkan hati. Tak peduli berapa tahun engkau menjaga batu-batu itu kokoh berdiri. Menjaganya senyata yang kau kira. Dan pangeranmu tetap duduk di singgasana tertinggi. Berjarak. Tak tersentuh. Bias dan khayali.

And so it is
The shorter story
No love, no glory
No hero in her skies

Kau akan tau pada saatnya. Bahwa meski hidup di satu galaksi, kau hanya berdiri di atas bumi. Dan ia bintang. Bintang yang terjauh. Di antara kalian, hangat sinar bulan memelukmu saat senja dan fajar di kedua ufuk. Dan menjadi penjaga di antara waktu keduanya.

But I still can’t take my eyes off you.

Kau akan tau pada saatnya. Bahwa kau dan dia lahir di dunia yang hanya berpapasan pada orbitnya. Tanpa saling menyentuh, pun untuk sekelebat atmosfer.

I can’t take my eyes off you.

Kau akan tau pada saatnya. Terlalu sederhana mengonsepkannya sebagai manusia. Dengan sepasang mata yang indahnya luar biasa menyakitimu. Hingga ke tulang-tulang. Kesempurnaan yang kejam. Yang mungkin, jika kau telusuri Mitochondrial Eve dalam tubuhnya, tak ada satupun selmu yang bisa kau temukan menyatu di dalamnya.

I can’t take my eyes off you.

Kau akan tau pada saatnya. Dinginnya pagi menantimu kembali dari mimpi. Agar ia bisa menamparmu dengan dingin udara yang nyata. Yang ada. Yang bisa kau rasai basah embunnya di kulitmu. Yang mencintaimu.

And so it is
Just like you said it should be
We’ll both forget the breeze
Most of the time

Dan kau akan tau pada saatnya. Kapan kastil itu harus runtuh.

-Damien Rice – Blower’s Daughter-

Ada sebuah rahasia. Tidak ada yang tau kecuali kami berdua. Dan kamu sebentar lagi.

Ada kamu yang selalu muncul di mimpinya, hingga esok hari ketika ia terbangun dan bertemu denganmu, pipinya terbakar dan kupingnya mendadak tuli. Suaramu tiba-tiba karam dan yang ia dengar hanya kebisingan denyar-denyar jantung yang ruwet dan gelisah. Pekerjaan terberat adalah melihat pada matamu, karena jika lebih dari dua detik mata kalian bertemu, ia akan mati. Bukan raga, hanya jiwa. Raganya akan sebeku hati perampas tanah rakyat, jiwanya kabur ke surga, bertemu dengan wewangian yang menyandu.

Mimpi adalah ramuan. Reaksi dari suatu aksi. Seperti semerbak tanah basah setelah hujan mengeroyoknya. Seperti orang kaya yang ngedumel karena ada becak menyenggol Alphardnya. Karena itu ia kebingungan. Si mimpi tiba-tiba datang saja tanpa permisi. Tanpa makna yang berarti. Tanpa maksud yang bisa diraba. Tanpa aksi.

Atau ada yang terlewat? Apa kamu bisa menjawab?

Apa yang kamu tanam subur pada hatinya, sengaja atau bukan, sedang membunuhnya. Jadi kamu pergi saja. Jangan mengurung diri lagi di ruang mimpinya. Kami tidak tau caranya. Dan ngomong-ngomong, mustahil juga kamu tau. Ah. Serahkan saja pada salah satu dari kami. Yang Maha Kuasa.

So here’s the point. I don’t know how you got your authority to become God. I should not say this as a human being that was born in the middle of religious fucking family. I know. So God, I’m just curious how on earth you gave me this bunch of shits, when people out there can be so happy and so rich and eat their ice cream without thinking anything but about how great it tastes. Not just me. Let’s say about other unbalance atmosphere you brought to your other creatures. So my complaint is not just about me. If you’re a human, I’d have contacted my lawyer and sued you for your incompetence. Really.

You know, because it happens almost every nights, that I can be this mad, then in next second I can cry like a baby and beg for your forgiveness for being ungrateful for all you’ve given to me, and convince myself that your plan is always good.

So now I’m in the mad part. Let me use this phase to become truly angry, spread my fury out in words.

I can be suicidal if I want. But I don’t want it because I’m too angry with you. I’m not gonna meet you when I’m in the messiest time of my life. That actually explains a lot that I’m not suicidal at all. Because becoming suicidal is not because you want it.

But I’m aware that my depression is close enough to that syndrom. That makes one little problem, like losing your key, can make you think about cutting your hand and die as soon as possible so you can’t feel anything hurts anymore.

Let me remind you what u’ve done to me.

My dad fucked other bitch and they’re married and had a kid. That bitch was famously known by my friends as a real slut, as she seduced a friend of my best friend that had a fucking fiancee already. Next days became nightmares. I didn’t know how to behaved in front of my friends. They still loved me, but it never been the same anymore. I wrote letter for my self, and replied it, for my self. I made my imaginary friend. I swore I never fall in love again, but then I kept meet the wrong guys and make them as my exceptions, to get hurt again and again. Dad and mom did not love each other again. House was like a hell. Rather than commit divorce, they keep living together in this messed up situation. Make their children live in fear, watching their parents hurt each other, or even not talk to each other at all. This house fulls of dramas. Everybody shouted. We lost our money, property, a car full of good memories, and happiness, forever. Dad more and more becomes a jerk. He needs three cars anywhere he goes. One for him and his bitch, one for his bitch’s stuff, one for his ego. We’ve loaned a huge money that I can’t imagine how we can pay them off. And how to pay for my sister and brothers school. When I was a child, I saw daddy and mommy holding hands together. But the child is grown, the dream is gone.

How come I can’t be suicidal?

But I can’t, apparently. I wanna know your plan. I wanna be in your game. I wanna know how you make karma works. I wanna give you a chance to make me feel guilty for being this mad to you.

So, surprise me, God. I can wait.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Jadi.. Jadi kau pikir, kau bisa katakan bahwa, dari neraka yang menyala-nyala, kau sanggup mereguk surga? Bahwa biru langit lahir dari rasa sakit? Kau pikir kau bisa katakan, bahwa rumput dan hijaunya yang hangat di matamu, tumbuh di atas rel baja yang dingin, mati dan artifisial? Kau pikir kau bisa katakan, kau akan tersenyum bahagia di balik kerudungmu yang samar?

Apa kau pikir, kau bisa mudah katakan itu semua?

Dan apakah mereka, membuatmu rela menukar kawanmu dengan hantu yang kau reka? Membuatmu menukar maut dengan pohon delusi? Membuatmu menukar kebohongan dengan kenyataan yang beku? Dinginnya ketenteraman untuk perubahan yang kau tunggu?

Dan apa kau benar-benar akan menukar kesempatan untuk melangkah gagah, menjadi bagian dalam peperangan, dengan sebuah penjara di mana kau menjadi satu-satunya pesakitan di balik jerujinya?

Betapa aku berharap.. Betapa aku berharap kau ada di sini. Karena akhirnya kita hanyalah dua jiwa yang tersesat tanpa satu dan lainnya. Menjadi ikan-ikan yang berenang di akuarium yang kita pilih. Tahun demi tahun. Tak henti. Berlarian menginjaki tanah yang kita kenal lama, dengan masing-masing sepatu kita. Tapi apa yang kita temui? Ketakutan-ketakutan usang yang sama.

Aku, berharap kau di sini.

 

Wish You Were Here – Pink Floyd

Sesenja ini. Kau belum juga bisa menentukan di mana akan meletakkan bayang pekat di bawah kakimu. Mentari menunggu kebimbangan ini, hingga ia lupa ada dua bocah yang mengurung mendung di matanya. Bukan rinai, hujan bahkan badai. Hanya mendung yang menggelayut berat. Sebab hati yang membatu. Dan batu tak merintikkan air.

Dua bocah ini menanti mentari, yang juga menantimu, pula menanti apa kami juga tak paham, untuk menampar awan hitam di pelupuk mata mereka. Agar jatuh. Deras. Hingga terangnya memancarkan rela dan pengampunan pada iblis yang berhenti menyembah tuannya.

Ini berawal di suatu malam ketika engkau bersembuyi di rok tumbuhanmu. Kami berkumpul di ruang televisi. Di mana bertahun-tahun lalu, saat kami belum belajar mendendam, engkau duduk di sebuah tempat terhormat, menjadi yang kami segani dan idolakan. Oleh sebab rok sialan yang entah sebagaimana bagus isinya itu, kami kehilanganmu. Kau dan apa yang bisa mengembalikan rasa hormat kami.

Bocah-bocah itu ternyata sudah bukan bocah lagi. Tak perlu lebih dari seratus kata untuk menjelaskan bahwa ada bocah lain yang lebih bocah dari mereka, yang di dalam pergelangan tangannya ada detak nadi yang mengalirkan darah. Darah yang sama dengan apa yang kami punya. Ya. Tak lebih dari seratus kata. Mereka tak sebocah engkau kiranya, yang hingga kami kehilangan suara memohon, tak juga berhenti menyayat luka.

Sudah barang tentu aku mengira si bocah terkejut. Tentu saja. Bagaimana bisa ternyata mereka punya adik yang lahir dari rahim tetumbuhan? Aku menyebutnya tetumbuhan karena bahkan binatang tak sebanding dengan kebinatangan gundikmu. Tapi mereka khusyuk mendengar kami berbicara. Aku hampir menangis. Berusaha berkonsentrasi dengan gambar gerak di kotak televisi.

Lalu aku teringat. Suatu hari saat aku meneriakimu dengan bunyi dendam yang memekakkan kupingku sendiri. Memohon agar engkau mengerti kesakitan ini, nerakamu yang ternyata belum selesai kau bangun untuk kami. Berhentilah. Berhentilah membuat kami membencimu. Lalu sebelum aku lari, aku melihatnya, bocah-bocah ini. Mendengar tiap serapah di mulutku.

Ya. Mungkin saat itu kali pertama bocah-bocah ini fasih membaca tiap halaman yang menceritakan rumah ini. Rumah kami. Yang ternyata di dalamnya membara neraka. Ada puisi yang tak selesai menyembunyikan gerimis di setiap mata. Yang basahnya tiris bahkan sebelum kami selesai menamati aksaranya.

Berhentilah. Agar mendung mereka tak berakhir menjadi air yang mengerikil tajam. Melantak luluh tanah yang kita pijak, yang belum juga kau putuskan di mana tepatnya bayangan ini direbahkan. Berhentilah.

Pernah kubilang, aku selalu merasa tidak nyaman dengan film yang membunuh tokoh utamanya pada lima belas menit pertama. Lalu sutradara memutar waktu hingga tiga atau bahkan dua puluh tahun sebelum kematian itu. Dan di sepanjang film kita menyaksikan bagaimana tokoh utama menjalani hari-hari selama ia masih bisa berbicara. Tersenyum. Jatuh cinta. Berjalan kaki di antara gedung-gedung kota. Begitu seterusnya hingga kita mulai menyayanginya, hanya untuk tau bahwa dua jam lagi ia akan mati.

Aku selalu merasa tidak nyaman dengan keniscayaan bahwa memilikimu adalah mustahil. Sedang perasaan kecil di satu titik di hatiku yang mengakui cintanya kepadamu begitu mendera. Lalu mataku membiasakan retinanya merefleksikan dirimu yang sublim, hanya untuk tau bahwa keagungan tidak akan pernah menjadi hakku.

When you were here before, I couldn’t look you in the eye. You’re just like an angel. Your skin makes me cry. You float like a feather. In a beautiful world.  

Ada yang salah tentang cara tuhan bekerja. Ia membangun jembatan yang terlalu jauh membentang, antara kesempurnaan dan kehinaan. Hingga saat mata kita bertemu, tubuhku rengsa. Menyentuh kulitmu membuatku ingin menangis. Bahwa setiap pasir yang kau injak akan mengutuki betapa kecil dirinya dibanding kemuliaanmu.

You’re so fucking special. I wish I was special.

Maka aku menemuimu pada satu hari sebelum kau menikah dengan sahabatku. Mengucapkan selamat menikah, selamat tinggal, dan bahwa aku pernah dan masih mencintaimu sejak ribuan tahun. Maaf, aku lupa kapan tepatnya aku mulai mencintaimu. Karena pada hari ketika hatiku pertama berdenyar, jarum jam membekukan dirinya. Kehidupan di sekelilingku berhenti. Memberi waktu pada diriku mengagumimu. Bukankah ini menyakitkan, bahwa aku mencintaimu bukan atas kesempatan yang kau beri, tapi karena semesta mengutuk dirinya menjadi batu hingga aku bisa bergerak bebas dalam kekelabuan.

I don’t care if it hurts.

Lalu aku menuntaskan kesempatan yang pernah alam sematkan pada bahuku untuk kejujuran ini. Dan kau hanya diam menyaksikan wajahku banjir air mata. Aku berharap itu bukan karena seseorang menancapkan paku di sepatumu. Ya, harus ada penjelasan bagus mengapa seorang pria diam saja saat ada wanita menjerit-jerit bahwa ia jatuh cinta padanya.

Jantungku bagai berhenti berdetak saat aku menyelesaikan kalimatku. Apa itu artinya aku harus bicara lagi? Tentu saja. Apa kau pikir perasaan yang dipendam selama ribuan tahun bisa habis begitu saja dimuntahkan dalam tak lebih dari satu jam bicara?

Tapi aku memilih berlari pergi, bahkan sebelum kau mengambil nafas pada detik pertama aku selesai bicara. Ini terlalu terlambat.

I’m a creep, I’m a weirdo. What the hell am I doing here? I don’t belong here.

I’m a creep,

I’m a weirdo..

Radiohead – Creep

Let it be, bisik Paul McCartney padaku. Satu waktu aku bisa mengerti dan menurutinya untuk merelakan segalanya menjadi lebih baik atau bahkan lebih buruk. Di waktu lain, aku mengumpati lagu ini. Kau pikir untuk menjadi rela itu hanya dengan modal silit? Tidak Sir.

Tapi aku tumbuh dengan Let it Be. Lagu itu yang membuatku berhenti menyiksa diri dengan  Escape (Muse), Stay Together for The Kids (Blink182) dan Family Portrait (Pink). Kau bisa menebak tipe gadis seperti apa aku saat itu. Kau bisa menebak, apa saja yang membentukku saat itu hingga kini.

Let it be, bisiknya lagi. Relakan mendung, petir dan deras air tajam, karena hanya dengan itu pelangi mau memunculkan diri. Tapi bagaimana jika aku terhenti, tergerus hujan, tertampar petir, terkelabukan mendung, hingga tidak sempat mengabadikan pelangi dan menyimpan potretnya dalam sakuku?

Bagaimana jika dengan pergi, tidak cukup untuk meredamkan api yang tak sengaja tersulut? Dan siapa yang akan menjamin segalanya akan makin memburuk jika aku tetap tinggal?

Akhirnya, apa yang kau tulis, Sir Paul, hanya berarti: let it be forever a question. Karena tuhan tidak menyediakan tombol undo dan redo.

PROLOG

I'm a girl married with Exogenesis Symphony.

SUARA

CERMIN

TWITTER

  • You give me that hummingbird heartbeat. 1 day ago
  • I wanna see ur peacock cock cock. Ur peacock cock. U wanna see my zebra bra ra. My zebra bra. *katy perry mashup 1 day ago
  • *mlayu ning warung* RT @Factsionary: Bananas contain natural chemicals that make you happy. 1 day ago
  • Secretly you're so amused that nobody understands you. 2 days ago
  • It's not a bug. It's the software gets drunk. 3 days ago

BIBIR

KAMAR

KANTONG

TAMU

  • 71,933 kali pintu terbuka.

Give me your email, and you'll ge my update!

Join 22 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.