Perpisahan pernah mendewasakan kita.
Kereta yang akan membawamu sudah tiba. Dulu, saat peron Stasiun Tugu masih mengijinkan para pengantar menikmati pertemuan terakhir mereka, kita sering duduk di salah satu bangkunya. Kau lebih sering menjadi sang pengantar. Dan penjemput tentunya. Wajahmu tenggelam dalam lembar-lembar koran. Aku mendekap ranselku sambil sesekali mencuri baca lembar di balik wajahmu. Sesekali pula aku merebut koranmu.
“Kamu baca yang halaman Jogja dulu aja. Aku mau baca headline,” begitu rajukku yang tentu sudah kau hafal baik.
Sejak peron menyekat sang pengantar atau penjemput dan sang diantar atau dijemput, kita lama tak masuk ke tempat ini. Kecuali sekedar lewat, atau menghabiskan malam di luar pagar, di mana kau menikmati segelas kopi joss yang aku sama sekali tidak doyan. Sepertinya aku mencintai kopi dengan pretensi. Aku tak bisa menyukainya seapa-adanya aku menyukaimu. Aku hanya cinta kopi yang higienis. Yang tidak melibatkan benda asing seperti arang atau bir.
Sekalipun aku kembali memakai jasa kereta untuk pulang tiap minggu, kau hanya mengantar hingga depan pintu stasiun yang menghadap Jln. Mangkubumi. Membantuku menurunkan ranselku, dan mengenakannya di punggungku dengan hati-hati. Lalu aku menyaksikan punggungmu menjauh, sebelum merasakan tanganmu yang entah itu mengusap wajahku, mengacak rambutku, atau menepuk bahuku. Seperti kakak pada adiknya.
Hari ini kali pertama sejak sekian lama kita tidak masuk ke halaman Stasiun Tugu. Bicara tentang kali pertama, kau tentu ingat hari-hari pertama aku dekat denganmu. Saat kau membawaku jalan-jalan ke stasiun. Menghabiskan semalaman mengobrol tentang apapun di lantai peron. Kereta demi kereta melewati kita. Kita saling menebak profesi orang-orang yang berjalan di depan kita.
Begitu seterusnya, hingga tiba giliranku melepasmu. Kenyataan bahwa akulah yang sering menjadi yang meninggalkan, membuatku sangat berat menjadi yang sebaliknya. Entah apa kau bisa merasakannya. Tapi, menyaksikanmu mengemas barang-barangmu dalam koper, menatap wajahmu untuk yang terakhir kalinya sebelum kita melangkah keluar dari kamar kostmu, mengantarmu sampai bandara atau stasiun dan duduk menanti waktu itu tiba, sungguh seperti menanti pisau guillotine jatuh di atas leherku. Di koper itu, ada harapanku yang menanti hatimu kembali seutuhnya. Seutuh-utuhnya.
Namun aku yang gemar berteori, punya teori pula tentang hal ini. Tak selalu isi koper yang kau bawa saat berangkat, sama seperti yang kau bawa saat engkau pulang. Bisa bertambah sesak, atau bahkan berkurang banyak. Apapun itu, jarang sekali ia kembali dengan sepenuhnya kosong. Selalu ada yang tersisa di dalamnya. Dan selalu, kembali kepadamu apapun keadaannya.
Dan aku menerimamu.
Kita menjadi salah satu saksi kekejaman perpisahaan. Yang bisa kau lihat jelas di tempat-tempat kaya emosi seperti bandara atau stasiun.
Di tempat ini, jika kau mau merenung sebentar saja, dan melihat pada sekelilingmu, kau akan menyaksikan bahwa kebahagiaan atau kesedihan itu bukan hanya benda gaib, tapi nyata, berwujud dan indah. Aku pernah melihat sepasang kekasih yang saling meggenggam jari-jari mereka meski pagar peron menyekatnya. Di antara besi-besi pagar itu, bagaikan kekasih yang terpisah jeruji, mereka diam menghayati rindu yang akan mereka jalani. Entah untuk berapa hari, atau mungkin tahun. Petugas stasiun sudah memperingatkan bahwa kereta akan berangkat, namun si pemuda enggan beranjak. Sang wanita tersenyum padanya, meyakinkan kerelaannya. Untuk menenangkannya, si pemuda mencium bibirnya dengan lembut. Tak peduli orang-orang ada di sekitarnya, yang sepertinya juga terlalu sibuk dengan perpisahan mereka.
Seperti hari ini, saat keretamu belum berangkat. Kita masih di luar pagar, di ujung trotoar area pejalan kaki. Tentu tidak ada bangku di sini. Maka kita duduk di tempat seadanya. Dua orang teman yang ikut mengantarmu, tengah asyik dengan obrolan mereka. Perpisahan di hari itu sungguh bisa aku terima. Sungguh lapang hatiku menahannya. Perpisahan-perpisahan, telah mendewasakan kita.
Sampai ketika kau mendekapku.
Lalu aku merasa kita melangkah sedemikian jauhnya, mempersiapkan diri untuk perpisahan-perpisahan yang pasti akan terjadi, untuk membuatku mengerti, bahwa hatiku pernah salah mengerti. Aku menyayangimu. Aku yakin tak ada seorang pun di hati kita yang bisa tergantikan. Entah itu kekasih, orang tua, kakak, adik, saudara kembar, atau satu-satunya sahabat yang tau siapa yang kau sukai diam-diam. Aku yakin itu. Tapi kali itu, adalah saat aku juga punya teori lain tentang kita. Kau tak akan bisa tergantikan, dan tak akan bisa aku tempatkan nama lain, sejajar di sisi namamu.
Kau bahkan tak perlu menyanyikanku bait lagu Payung Teduh, yaitu Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan. Yang lirik mautnya menghujam hati perempuan manapun. Bukan hanya karena kau tak pernah bisa menghafal lirik lagu. Tapi juga karena dekapmu yang nyata, ada, dekat, terjangkau dan penuh kasih. Yang sungguh bisa menenangkanku.
Aku selalu hanya butuh pelukanmu untuk membuat semuanya terasa kembali baik-baik saja. Bahkan saat aku ragu dengan kita, dan mengatakan teori lain yang kubuat-buat, yang tentu menyakitimu, atau mungkin membuatmu mendendam dan aku bahkan akan merelakannya. Dan pelan, kau membisikkan kalimat “Kau boleh pergi.” Lalu kau memelukku lagi. Dan semuanya terasa baik-baik saja. Seakan tanpa lubang yang pernah menganga.
Keretamu berangkat sebentar lagi. Aku menyuruhmu bergegas. Kau genggam tanganku dan mencium keningku. Dan perpisahan itu berlalu begitu saja. Entah apa yang akan terjadi pada dua kali lipat lamanya dari pertama kita bertemu nantinya. Semoga ibukota tak jahat padamu. Dan padaku.
Tak terasa gelap pun jatuh
Diujung malam menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya
(Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan – Payung Teduh)
*Untuk kau yang selalu menganggapku cantik, bahkan saat aku sedang flu atau acak-acakan. Dan dengan begonya aku percaya.
RECENT COMMENT