You know, I’d always wondered why Ruhut Sitompul frequently overacts and yells with his big mouth in The (honorable) House of Representatives inquiry committee on the Century scandal.

Sumber Gambar: http://politikana.com/baca/2009/12/20/ternyata-ruhut-sitompul-pendukung-syariat-islam.html

Now i know. Because he has a big big mouth, in a real sense, actually.

Berawal dari sedikit pengetahuan e-commerce dan kecintaan terhadap fashion, saya membuka sebuah butik online.

Review produk, prosedur pemesanan dan sebagainya, bisa Anda lihat di VOILA Butik Online

Ini adalah sebuah butik yang menyediakan berbagai macam kebutuhan fashion wanita, mulai dari dress, t-shirt, blouse, kemeja, handbags, clutch, sepatu dan sebagainya. Produk-produk bersifat ready stock (tanpa pre order terlebih dahulu).

Barang yang Anda pesan melalui proses pengiriman lewat Tiki Jne. Biaya dan waktu pengiriman adalah sebagai berikut: Read the rest of this entry »

Oh Mon Dieu, s’il vous plait..

Pertama, saya khawatir akan menuduh Mira Lesmana dan Riri Reza adalah filmmaker idealis yang tiba-tiba khilaf dengan menjadi pedagang.

Kedua, Laskar Pelangi tetap akan jadi catatan sejarah kok, kendati tanpa sekuel-sekuelnya. Nagabonar Jadi 2 adalah satu-satunya sekuel film Indonesia yang worth it untuk tidak dianggap mengecewakan penggemar film pertamanya, Nagabonar (1987).

Tapi saya harus tetap nonton film ini karena “konon katanya” menghabiskan sebelas miliar dan “konon katanya” adalah film yang paling dinanti. “Konon katanya” Andrea Hirata menilai Sang Pemimpi tiga kali lebih keren dari Laskar Pelangi.

Sang Pemimpi adalah film yang diadaptasi dari novel kedua Andrea Hirata yang berjudul sama dari tetralogi Laskar Pelangi. Film pertama dari buku pertama, Laskar Pelangi, sukses meraup kesuksesan di industri film Indonesia pada 2008. Ia seperti vitamin saat marak film-film Indonesia yang penuh latihan kebodohan. Ini loh, Indonesia punya yang beda. Ini loh, sineas Indonesia ada kok yang kerjaannya bukan cuma mengeksploitasi segala macam jenis hantu di Pulau Jawa untuk difilmkan. Ah, Pulau Jawa. Pulauku nestapa.

Namun sayang sekali. Mira Lesmana dan Riri Reza menggodok Sang Pemimpi menjadi begitu membosankan dengan alur selambat keong. Saya berusaha mendudukkan pantat saya dengan tenang dan manis, tapi kursi bioskop sepertinya terlalu panas. Read the rest of this entry »

Keira Knightley and Andrew Lincoln Best Scene

“Enough,” gumam Mark (Andrew Lincoln) di depan pintu rumah kecil itu, menambal hatinya sebelum terlanjur keropos. Ia adalah pria yang tersiksa karena harus menahan perasaannya kepada seorang wanita. Juliet (Keira Knightley), wanita tercantik dalam DVD itu, tak lain adalah istri dari sahabatnya, Peter (Chiwetel Ejiofor).

Pada satu malam Natal, yang penganutnya yakini bahwa everyone must tell the truth pada hari itu, Mark menemui Juliet.

Ini adalah pertemuan pertama setelah beberapa waktu sebelumnya mereka bertemu dalam situasi yang membuat hati siapapun rontok. Juliet tak puas dengan video pernikahannya dengan Peter, karena ada beberapa gambar yang menurutnya buram. Ia mendesak Mark, yang kala itu ikut merekam perhelatan mereka dengan sebuah handycam.

Mark dimata Juliet, adalah lelaki yang sama sekali tak ramah. Bahkan sekalipun ia adalah sahabat baik Peter, Mark selalu menjaga jarak dan terkesan tak bersahabat dengan Juliet. Juliet menyadari itu. Dan menurutnya, inisiatifnya untuk meminta rekaman dari Mark adalah sekaligus memperbaiki hubungan keduanya.

Keadaan berkata lain ketika rekaman yang berhasil ditemukan Juliet menjawab semuanya. Tentang sikap Mark, tentang segalanya. Keping DVD itu penuh dengan sosok Juliet. Wajahnya, ekspresinya, senyumnya, gaun pernikahannya, rambutnya yang pirang tersanggul, deretan gigi Inggrisnya yang yang membuat Mark salah tingkah.. Ia hanya merekam Juliet. Tak ada yang lain, tak juga Peter, suaminya.

Juliet bergegas membuka pintu ketika bel berbunyi di malam Natal saat ia bersama Peter. Read the rest of this entry »

http://behance.vo.llnwd.net/

Di Manhattan, para wanita terbiasa menabung untuk membeli sepatu-sepatu mahal. Mereka cukup sinting untuk terlebih dahulu melihat sepatu yang dikenakan orang lain pada dua detik pertama mereka bertemu.

Sepatu adalah gengsi.

Hobi pun punya gengsi. Semakin mahal hobi, semakin tinggi gengsinya. Begitu pula benda-benda mewah nan mahal seperti mobil atau gadget. Bahkan properti. Semua, demi gengsi.

Tapi apakah gengsi selalu berkolaborasi dengan objek-objek mahal?

Saya bukan tidak pernah melihat warung makan ini. Sekali dua kali saya pernah lewat di sana, dengan kesan yang selalu sama. Ramai. Letaknya di samping pos ronda yang menjadi sudut tusuk sate simpang tiga itu. Ia berada di sebuah jalan kampung bernama Alamanda, yang diapit Universitas Negeri Yogyakarta dan Jalan Affandi. Read the rest of this entry »

Pertamina memberi kesempatan untuk para blogger menunjukkan kelihaiannya bermain-main dengan Search Engine Optimization (SEO). Kompetisi bertajuk Pertamina Blog Contest ini menyusul perhelatan dies natalies PT Pertamina (Persero) ke-52. Kompetisi ini menarik. Ini adalah reward yang ditunggu-tunggu para blogger yang ingin berkarya.

Dalam Frequently Asked Question (FAQ), dijelaskan bahwa kompetisi ini bukan murni sebuah kontes SEO. SEO adalah suatu teknik untuk menjadikan suatu website mudah ditemukan oleh mesin pencari, seperti Google. Meskipun menjadi salah satu unsur penilaian, artikel yang benar-benar berupa review dan harapan tentang Pertamina tetap menjadi pertimbangan utama. Namun, semakin baik posisi blog dalam mesin pencari Google, semakin tinggi nilai yang diberikan. Kata kunci yang dioptimalisasi adalah “Kerja Keras Adalah Energi Kita”.

Menarik melihat gelombang euphoria kontes ini. Menyaksikan master-master SEO berakrobat menyulap blog mereka agar dilirik oleh juri-juri yang berwenang. Saya pun tidak sengaja kecipratan histeria itu, karena orang-orang di lingkungan studi saya, STMIK Amikom Yogyakarta, akrab dengan hal-hal semacam ini.

Saya tak ingin ikut bermuluk-muluk. Banyaknya peserta dan ilmu SEO saya yang masih kerdil sepertinya membangunkan saya sebelum mulai bermimpi menjadi salah satu yang dinominasikan.

Tapi saya melihat peluang lain dari adanya kompetisi ini. Saya punya sedikit hal yang mengusik rasa kemanusiaan saya. Ini berhubungan dengan sebuah program yang sedang digalakkan Pertamina. Saya rasa, dengan adanya kompetisi ini, suara saya memiliki kemungkinan untuk didengar oleh Pertamina yang mereview artikel-artikel yang di-submit oleh peserta.

SENYUM, SALAM, SAPA

Salut saat membaca kalimat “Kerja Keras Adalah Energi Kita”. Seolah-olah tradisi bekerja keras di Pertamina seperti kegiatan bernapas saja. Seolah dalam Pertamina, bekerja keras bukan sebagai kewajiban, tapi menjadi bahan bakar energi untuk menumbuhkan semangat menjadi yang terdepan dan berkualitas. Read the rest of this entry »

Tulisan ini untuk Alfian Syafril, mantan kekasihku (aku mengundangmu membalas tulisan ini. Mari berpolemik, Bung!). Untuk seorang perempuan gila, kurang ajar, tak sadar rupa dan tak sadar attitude bernama Mutia Fermanda. Dan untuk semua teman-teman yang masih peduli.

“Saat ini apa yang paling pengen kamu dengar dariku, Ta?”
“Mm.. aku ingin kamu bilang gini An: ‘Ta.. aku tadi tu udah sms Tia, aku bilang jangan sms aku lagi, dasar wanita jalang!’
“Trus?”
“Trus kamu bilang lagi: ‘Tapi Ta, dia masih sms aku terus. Kutelfonlah dia. Hei, dasar perempuan murahan. Gampangan banget sih loh jadi cewek! Gara-gara kamu aku kehilangan pacarku! Kamu tu gak ada apa-apanya dibanding dia. Pergi kamu anak setan!’
“Trus?”
“Trus aku akan bilang: ‘Ya ampun An, kasian loh dia digituin. Dia kan anak kecil.. Emangnya kamu udah gak sayang ma dia?’ Trus kamu jawab: ‘Halah ngapain ma dia. Mending cantik!’ Hahaha. Jahat ya aku.”
“Kamu gak pengen aku bilang dan mohon ke kamu: Bisakah kamu kembali padaku?” Read the rest of this entry »

Aku memiliki jenis rambut yang tidak perfectly straight. Ia memiliki gelombang-gelombang menyebalkan dan membuatku selalu tampak seperti singa tiap bangun dari tidur. Sedihnya, ini bukan gelombang-gelombang sempurna yang membuatku tampak glamour bak artis-artis perempuan di layar kaca. Ini sangat.. weird. Dan menyedihkan.

Aku terlahir dengan rambut yang sangat banyak. Ibuku adalah pemilik rambut terlebat di kota ini (OK, tidak juga sih). Karena senewen, aku memotong rambutku dan membentuknya menjadi beberapa layer sejak aku duduk di bangku kelas dua SMP (aku memotongnya sendiri, hingga ibuku marah karena gunting dan sisirku menyangkut di rambutku dengan sangat indahnya). Setelah peristiwa mutilasi itu, sampai sekarang rambutku tidak pernah selebat dulu. Oh ya, aku mulai menyiksa rambutku dengan obat pelurus rambut saat umur itu juga.

Obat pelurus tentu tidak berdampak pada rambut seumur hidupmu. Ramuan itu tidak akan berpengaruh pada rambut yang masih tertanam di kulit kepalamu. Artinya, rambut baru yang tumbuh tidak akan selurus rambut lama yang sudah ditreatment.

Akhirnya aku mulai bosan dengan pelurusan permanen. Aku menggantungkan diriku pada salon. Keramas, masker, creambath, kemudian blow dry atau catok. Manja sekali.

Kemudian aku terpikir membeli catok, karena kebiasaan bersalon ini tidak bersahabat sekali dengan dompetku. Aku beli catok blow, yang pelat pemanasnya tidak flat. Ia agak melengkung, membuatnya menghasilkan hasil catokan yang lurus alami dan tidak kaku. Very interesting. Aku membelinya di toko kosmetik Mutiara, timur jembatan layang Lempuyangan, Yogyakarta. Ini adalah iron termurah dari yang lain. Ya, aku merasa tak perlu membeli dengan sangat mahal karena aku mengonsumsinya sendiri. Jangan kaget, 185 ribu. Sebenarnya tidak begitu murah, karena kamu bisa mendapatkan yang berbanderol 40 ribu di swalayan-swalayan lain. But trust me. Don’t you make a joke with your lovely hair. Seratus delapan puluh lima ribu adalah worth it.

Dan hebatnya, aku bisa memaksa catok ini untuk membuat style wavy hair, or even curly. Aku tak perlu lagi membeli curling iron. Aku pertama kali melihat tutorialnya di Youtube. Bahkan ada yang mencontohkan pengeritingan rambut dengan catok yang platnya didesain untuk meluruskan rambut saja. Pengeritingan ini akan menghasilkan wavy dengan ukuran yang besar.

Kemarin aku menemukan cara baru mengeriting rambut tanpa iron. Read the rest of this entry »

Sejauh saya mengerti budaya Sumatera Barat, sejauh itu saya tertarik dengan tempat ini. Saya (sekarang) berpacaran dengan seorang lelaki asal Padang. Lahir di ranah Minang, tumbuh dalam dialek Padang, besar dalam pendar-pendar primordialisme khas remaja Padang. Praktis, saya cepat akrab dengan budaya Minang, sekalipun belum pernah menginjakkan kaki keluar dari jeruji-jeruji kesentrisan pulau Jawa.

Lelaki saya yang berpuak Jambak ini, Alfian, yang membuat saya cukup fasih bercerita dan berbicara dalam budaya dan bahasanya.

Tulisan ini semata-semata hanya sebagai referensi Anda yang ingin belajar bahasa Padang. Read the rest of this entry »

Langit yang mengangkangi kota Jogja selalu labil. Ia seperti gadis remaja yang kebingungan dengan mens pertamanya. Kadang ia menumpahkan hujan ketika hari masih sangat pagi. Cacing-cacing bahagia. Anak sekolah bertepuk tangan merayakan batal upacara, karena tanah berumput yang diatasnya tumbuh tiang bendera becek oleh air hujan. Awan-awan tembaga berparade. Angkasa menjadi ruang battle bagi hujan dan petirnya . Mungkin jika langit adalah lukisan, pelukisnya bahkan terpeleset oleh air yang disiram mendung. Jatuh dari langit yang ia lukis sendiri. Terkapar dan terpanggang oleh petir yang disketsanya.

Bunyi-bunyian air yang menabrak bumi melelapkan penghuni kost dengan semena-mena. Mahasiswa-mahasiswi di kota ini umumnya akan terus meringkuk dalam selimut, sampai suara hujan raib bersama dengan munculnya pekikan dari tubuh mangkok tak berdosa yang dipukul-pukul tukang soto.

Read the rest of this entry »

PROLOG

I'm Indonesian, have been studying information system in Jogja. I'm a big fan of Marilyn Monroe. I now have a passion in fashion, and a little bit about journalism. I'm crazy in UNO Card too. I speak Indonesian, Javanese, Minangnese and English. Ah oui, i've been learning French.

BIBIR

KAMAR

KANTONG

TAMU

  • 5,579 kali pintu terbuka.

NOW BELONG TO..

TWITTER

Give me your email, and you'll ge my update!