11.01.09
SENYUM PERTAMINA, ENERGI POSITIF YANG MENGANCAM
Pertamina memberi kesempatan untuk para blogger menunjukkan kelihaiannya bermain-main dengan Search Engine Optimization (SEO). Kompetisi bertajuk Pertamina Blog Contest ini menyusul perhelatan dies natalies PT Pertamina (Persero) ke-52. Kompetisi ini menarik. Ini adalah reward yang ditunggu-tunggu para blogger yang ingin berkarya.
Dalam Frequently Asked Question (FAQ), dijelaskan bahwa kompetisi ini bukan murni sebuah kontes SEO. SEO adalah suatu teknik untuk menjadikan suatu website mudah ditemukan oleh mesin pencari, seperti Google. Meskipun menjadi salah satu unsur penilaian, artikel yang benar-benar berupa review dan harapan tentang Pertamina tetap menjadi pertimbangan utama. Namun, semakin baik posisi blog dalam mesin pencari Google, semakin tinggi nilai yang diberikan. Kata kunci yang dioptimalisasi adalah “Kerja Keras adalah Energi Kita”.
Menarik melihat gelombang euphoria kontes ini. Menyaksikan master-master SEO berakrobat menyulap blog mereka agar dilirik oleh juri-juri yang berwenang. Saya pun tidak sengaja kecipratan histeria itu, karena orang-orang di lingkungan studi saya, STMIK Amikom Yogyakarta, akrab dengan hal-hal semacam ini.
Saya tak ingin ikut bermuluk-muluk. Banyaknya peserta dan ilmu SEO saya yang masih kerdil sepertinya membangunkan saya sebelum mulai bermimpi menjadi salah satu yang dinominasikan.
Tapi saya melihat peluang lain dari adanya kompetisi ini. Saya punya sedikit hal yang mengusik rasa kemanusiaan saya. Ini berhubungan dengan sebuah program yang sedang digalakkan Pertamina. Saya rasa, dengan adanya kompetisi ini, suara saya memiliki kemungkinan untuk didengar oleh Pertamina yang mereview artikel-artikel yang di-submit oleh peserta.
SENYUM, SALAM, SAPA
Salut saat membaca kalimat “Kerja Keras adalah Energi Kita”. Seolah-olah tradisi bekerja keras di Pertamina seperti kegiatan bernapas saja. Seolah dalam Pertamina, bekerja keras bukan sebagai kewajiban, tapi menjadi bahan bakar energi untuk menumbuhkan semangat menjadi yang terdepan dan berkualitas.
Semakin salut setelah Pertamina meluncurkan Program Senyum Pertamina pada 2007. Pertamina membudayakan bekerja keras sambil tersenyum! Benar-benar upaya untuk membentuk lingkungan kerja dengan energi positif dan berkualitas.
Oktober tahun sebelumnya, GM UPms III Achmad Faisal berkomentar tentang SPBU percontohan yang telah siap memberikan pelayanan terbaiknya untuk konsumen. Pelayanan tersebut meliputi kesiapan segi tampilan SPBU, kesiapan operator dan sistem angkutannya yaitu transportasi BBM pola baru (Media Pertamina Edisi No. : 44/XLII , 30 Oktober 2006). Kesiapan para operator yang dimaksud antara lain dengan menerapkan 3S, yaitu senyum, salam, dan sapa.
Sekarang, kita terbiasa dengan pemandangan ini. Operator SPBU, selalu rajin memberi tahu konsumen bahwa angka pada dispenser menunjuk angka nol, sambil tersenyum! Hebat sekali.
Jangan menyepelekan kegiatan menarik ujung bibir ini. Dalam Patch Adams, film drama komedi yang diproduksi tahun 1998 dan mengangkat kisah nyata Dr. Hunter Patch Adams, ada satu kutipan menarik yang diucapkan Patch yang diperankan Robin Williams tersebut.“Jika tersenyum, otak mereka mengeluarkan seretonin yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka,” sahut Patch begitu kepergok dekan fakultas kedokteran tempat ia kuliah, saat ia sedang mengajak bercanda para pasien di bangsal rumah sakit.
Banyak orang mengaitkan teori senyum dan kekebalan tubuh ini dengan mantan Presiden Indonesia, Soeharto. Usianya yang panjang dan masa berkuasanya yang lama banyak dihubungan-hubungkan dengan kebiasaan khasnya untuk tersenyum.
Namun lebih dari itu, senyum memiliki energi luar biasa bagi lingkungan di sekitarnya. Lingkungan kerja yang membudayakan senyum tentunya memberi kenyamanan, baik bagi diri sendiri maupun bagi konsumen.
SENYUM YANG MENGANCAM
Saya pertama kali membaca ulasan tentang budaya senyum di Pertamina, dalam sebuah note di Facebook. Judulnya, Di Balik Senyum Petugas Pom Bensin. Artikel ini menggelitik saya, karena saya memiliki kegundahan yang sama dengan penulis.
Adakah dari Anda yang merasa baik-baik saja berinteraksi lama dengan uap bensin? Kalau saya boleh menebak, keluhan yang akan paling sering dialami adalah dada yang terasa sesak dan kepala yang pusing. Saya tidak tau apakah sudah ada yang melakukan riset tentang ini, tapi kedua keluhan tersebut sepertinya sudah bisa dicurigai sebagai gejala yang cukup gawat. Kita bicara tentang petugas pom bensin, yang kurang lebih delapan jam berinteraksi dengan uap bensin. Dalam durasi selama itu, apakah tidak kejam membiarkan mereka berdamai dengan uap bensin yang mungkin membahayakan kesehatan mereka?
Kalau bahaya itu benar adanya, Program Senyum ini berarti ironis. Karena aturan untuk tersenyum otomatis tidak membolehkan mereka menutup hidung dan mulut dengan masker. Padahal masker mungkin bisa menjadi salah satu cara meminimalisasikan efek samping uap bensin bagi kesehatan mereka. Senyum yang diharapkan membangun energi positif dan bertujuan memberi kepuasan bagi konsumen, ternyata menyembunyikan sebuah ancaman yang tidak bisa dianggap enteng.
Saya pribadi, merasa akan tetap baik-baik saja walaupun dalam transaksi pembelian bensin, saya disambut petugas pom bensin yang bermasker. Saya akan tetap membeli bensin walaupun tidak melihat senyum petugas bensin, atau bahkan walaupun mereka tidak tersenyum sama sekali. Keramahan dalam menunjukkan angka nol pada dispenser sudah cukup untuk menjadikan kegiatan transaksi tidak membuat saya senewen. Dan yang pasti, tidak akan menghentikan saya membeli bensin kan?
Dengan tulisan ini, saya memiliki harapan agar Pertamina lebih menjamin kesejahteraan seluruh elemen pegawainya, termasuk jaminan untuk tidak menjadikan pekerjaan mereka memiliki bahaya jahat yang tersembunyi. Toh faktor kesehatan adalah nomor wahid untuk kualitas kerja yang maksimal kan?
Semoga Pertamina merasa perlu untuk melakukan sosialisasi pemakaian masker bagi para operator SPBU, sehingga bukan kerja keras biasa yang menyulut energi mereka untuk bekerja. Melainkan kerja keras yang juga sadar akan keamanan bekerja.
Terima kasih. Sukses selalu untuk PT Pertamina (Persero).
10.17.09
DIALOG, DAN PERTANYAAN
Tulisan ini untuk Alfian Syafril, mantan kekasihku (aku mengundangmu membalas tulisan ini. Mari berpolemik, Bung!). Untuk seorang perempuan gila, kurang ajar, tak sadar rupa dan tak sadar attitude bernama Mutia Fermanda. Dan untuk semua teman-teman yang masih peduli.
“Saat ini apa yang paling pengen kamu dengar dariku, Ta?”
“Mm.. aku ingin kamu bilang gini An: ‘Ta.. aku tadi tu udah sms Tia, aku bilang jangan sms aku lagi, dasar wanita jalang!’”
“Trus?”
“Trus kamu bilang lagi: ‘Tapi Ta, dia masih sms aku terus. Kutelfonlah dia. Hei, dasar perempuan murahan. Gampangan banget sih loh jadi cewek! Gara-gara kamu aku kehilangan pacarku! Kamu tu gak ada apa-apanya dibanding dia. Pergi kamu anak setan!’”
“Trus?”
“Trus aku akan bilang: ‘Ya ampun An, kasian loh dia digituin. Dia kan anak kecil.. Emangnya kamu udah gak sayang ma dia?’ Trus kamu jawab: ‘Halah ngapain ma dia. Mending cantik!’ Hahaha. Jahat ya aku.”
“Kamu gak pengen aku bilang dan mohon ke kamu: Bisakah kamu kembali padaku?” Read the rest of this entry »
09.18.09
Mengeriting Rambut Tanpa Curling Iron (Catok)
Aku memiliki jenis rambut yang tidak perfectly straight. Ia memiliki gelombang-gelombang menyebalkan dan membuatku selalu tampak seperti singa tiap bangun dari tidur. Sedihnya, ini bukan gelombang-gelombang sempurna yang membuatku tampak glamour bak artis-artis perempuan di layar kaca. Ini sangat.. weird. Dan menyedihkan.
Aku terlahir dengan rambut yang sangat banyak. Ibuku adalah pemilik rambut terlebat di kota ini (OK, tidak juga sih). Karena senewen, aku memotong rambutku dan membentuknya menjadi beberapa layer sejak aku duduk di bangku kelas dua SMP (aku memotongnya sendiri, hingga ibuku marah karena gunting dan sisirku menyangkut di rambutku dengan sangat indahnya). Setelah peristiwa mutilasi itu, sampai sekarang rambutku tidak pernah selebat dulu. Oh ya, aku mulai menyiksa rambutku dengan obat pelurus rambut saat umur itu juga.
Obat pelurus tentu tidak berdampak pada rambut seumur hidupmu. Ramuan itu tidak akan berpengaruh pada rambut yang masih tertanam di kulit kepalamu. Artinya, rambut baru yang tumbuh tidak akan selurus rambut lama yang sudah ditreatment.
Akhirnya aku mulai bosan dengan pelurusan permanen. Aku menggantungkan diriku pada salon. Keramas, masker, creambath, kemudian blow dry atau catok. Manja sekali.
Kemudian aku terpikir membeli catok, karena kebiasaan bersalon ini tidak bersahabat sekali dengan dompetku. Aku beli catok blow, yang pelat pemanasnya tidak flat. Ia agak melengkung, membuatnya menghasilkan hasil catokan yang lurus alami dan tidak kaku. Very interesting. Aku membelinya di toko kosmetik Mutiara, timur jembatan layang Lempuyangan, Yogyakarta. Ini adalah iron termurah dari yang lain. Ya, aku merasa tak perlu membeli dengan sangat mahal karena aku mengonsumsinya sendiri. Jangan kaget, 185 ribu. Sebenarnya tidak begitu murah, karena kamu bisa mendapatkan yang berbanderol 40 ribu di swalayan-swalayan lain. But trust me. Don’t you make a joke with your lovely hair. Seratus delapan puluh lima ribu adalah worth it.
Dan hebatnya, aku bisa memaksa catok ini untuk membuat style wavy hair, or even curly. Aku tak perlu lagi membeli curling iron. Aku pertama kali melihat tutorialnya di Youtube. Bahkan ada yang mencontohkan pengeritingan rambut dengan catok yang platnya didesain untuk meluruskan rambut saja. Pengeritingan ini akan menghasilkan wavy dengan ukuran yang besar.
Kemarin aku menemukan cara baru mengeriting rambut tanpa iron. Because iron is a big sin of the girls. Aku bisa saja melakukannya dengan rol rambut. Tapi aku hanya punya rol dengan ukuran besar, yang tidak akan cocok untuk rambutku yang masih sepanjang tali BH.
Aku menggantinya dengan potongan tissue. Tissue kotak itu, potong menjadi dua bagian sama panjang (biar hemat). Bagi rambutmu. Membagi rambut jangan terlalu besar, agar nanti ketritingnya terlihat jelas. Gulung bagian-bagian rambutmu dengan tissue tersebut. Caranya? Jepit ujung rambut diantara tissue yang kamu lipat menyilang. Gulung helai-helai rambut tersebut sampai ke atas. Just twisting and rolling it. Kemudian kunci gulungan dengan mengikat kedua ujung tissue. Lakukan setelah keramas dan rambut masih sedikit basah.

Tunggu rambutmu kering tanpa hair dryer. Kamu bisa membaca, nonton TV, masak, atau foto-foto tidak jelas seperti saya.
Tunggu sampai rambutmu kering. Jangan dikeringkan dengan hair dryer. Kalau tidak sabar, keringkan dengan kipas angin saja. Setelah dirasa kering, lepaskan gulungan tissue satu per satu. Let it works naturally.
And voila! You have your hair curl! Bila perlu, tegaskan tekstur keritingnya dengan curl moose atau awetkan dengan hair spray. Keritingmu akan bertahan sampai dua atau tiga hari. Kamu bisa mengganti tissue dengan kertas yang agak elastis atau potongan kain-kain perca. Ini akan perfectly works untuk jenis rambut sepertiku. Jenis rambut yang dulu selalu kukutuk karena it’s not both curly and straight so i always yell every morning, “WHAT HAPPENED WITH MY FUCKING HAIR?”
So thank God if you have hair style like me. Karena kamu bisa treatment berbagai macam model rambut. Jangan lupa seimbangkan dengan shampoo yang sesuai dengan rambutmu, conditioner, masker dan vitamin.
08.24.09
Mencegahnya Hilang dari Jari-Jariku
Langit yang mengangkangi kota Jogja selalu labil. Ia seperti gadis remaja yang kebingungan dengan mens pertamanya. Kadang ia menumpahkan hujan ketika hari masih sangat pagi. Cacing-cacing bahagia. Anak sekolah bertepuk tangan merayakan batal upacara, karena tanah berumput yang diatasnya tumbuh tiang bendera becek oleh air hujan. Awan-awan tembaga berparade. Angkasa menjadi ruang battle bagi hujan dan petirnya . Mungkin jika langit adalah lukisan, pelukisnya bahkan terpeleset oleh air yang disiram mendung. Jatuh dari langit yang ia lukis sendiri. Terkapar dan terpanggang oleh petir yang disketsanya.
Bunyi-bunyian air yang menabrak bumi melelapkan penghuni kost dengan semena-mena. Mahasiswa-mahasiswi di kota ini umumnya akan terus meringkuk dalam selimut, sampai suara hujan raib bersama dengan munculnya pekikan dari tubuh mangkok tak berdosa yang dipukul-pukul tukang soto.
08.20.09
Mengenang Achmad Rasul
Kami baru setengah jam ada di dalam sebuah kelas di Lembaga Indonesia Perancis itu. Ini kelas paling sepi dari hari sebelumnya. Hanya ada sepuluh siswa. Aria Seta, mentor Perancis kami, tetap semangat mengajar di depan kelas. Masih juga ada gelak tawa. Ada Bunga yang ramai, ada Shandy yang konyol, ada Eiko Minami dan Yogo dengan tempat duduk yang tak pernah berubah sejak kursus ini dimulai. Kami, aku dan Alfian, duduk berdampingan. Semua berlalu seperti biasa. Tidak ada satupun yang membuat kami merasa akan ada sesuatu.
Handphone-ku bergetar. Ada SMS dari Astutik yang juga tidak cukup membuatku merasa-akan-ada-sesuatu. “Ta, beq2 itu nama aslinya siapa?”.
Astutik, yang bekerja di sebuah LBH di Jogja, adalah pacar dari Fahri Salam, yang pernah satu kost dengan Alfian. Alfian adalah pacarku.
Aku menjawab singkat sms-nya. “Achmad Rasul”. Aku masih bersikap sangat biasa sampai sms kedua itu datang. Lututku melemas. Kupingku berdenging. Sudah kubaca habis, dan kata “Innalillahi..” dan seterusnya selalu beraroma bencana Read the rest of this entry »
08.16.09
Sacrifice in Finding Water
A few days ago, I didn’t take a bath in my own home. Exactly, I didn’t touch water at all. The soiled clothes and dirty glasses watched me as I woke up every morning. It’s because of there was no dishwater, or, even clearer, there was no water: at all.
I had to wash myself in my friend’s house. It usually took place in my bofro’s (bofro means boyfriend, in my term). It puts one kilometer distance between our houses. I spend the livelong day with him. Every moment, every day. This habit makes “fleeing for bathing” isn’t a big deal for me.
08.08.09
Untuk Temanku
Mungkin dia sudah tidur. Nafasnya teratur. Bola mata bergerak-gerak. Lazimnya manusia yang sedang bermimpi.
Tak sempat cuci muka. Masih ada sisa liquid eye liner di matanya. Belepotan karena tadi dia menangis. Lelehannya mengering seluas kantung mata. Seperti bercak darah perawan di spreimu yang akan kau tangisi pagi harinya.
Dia tidur di kamarku.
Mungkin dia sudah tidur. Mungkin juga belum.
Apa kau yakin kau bisa cepat tidur setelah seseorang menjadikanmu begitu menyukai air mata?
Handphone-nya berbunyi. Aku menyesal terlambat menyembunyikannya. Terlambat mencegahnya bangun dari hal paling rasional di dunia ini, tidur. Bangun membuatnya tersadar kembali bahwa dia belum pantas untuk bermimpi: masih ada yang harus diselesaikan.
“Aku harus bilang apa agar dia tau dia menyakitiku?”
Aku sangat senang dengan “diam”, khususnya kalau aku dihadapkan dengan masalah sepertinya. Percayalah, ketika pasanganmu bahkan enggan sekedar menengokmu yang sedang menatap punggungnya lebih dari satu jam, apa lagi yang diharapkan dari hubungan ini? Tentu ini bukan hanya tentang pasanganmu dan punggungnya. Ini tentang menghargai seseorang yang menyayangimu. Hargai orang yang sayang padamu dengan memberi tahunya, whether you like it or even not.
Dan ketika dia mengucapkan tidak, bagiku tidak ada satupun rongga harga diriku yang terbuka untuk menanti kata ‘ya’.
Diamlah. Tunjukkan padanya, bahkan kamu tak mengemis untuk tatapan matanya. Diam menjadikannya sadar bahwa kamu jauh lebih berharga dari yang ia sangka. Tak perlu memulai komunikasi karena kalau dia merasa masih sangat membutuhkanmu, handphone-mu pasti berbunyi. Dan seberapa lama tak ada kabar darinya, itu adalah seberapa banyak kamu tau apa arti semua ini.
07.20.09
PANGGUNG SANDIWARA
“Cut!”
Suara Sutradara menghentikan seorang bajingan yang tengah akan mengucap Assalammualaikum. Adegan rekapitulasi pemilu terhenti, juga para anjing yang berakting gila. Dan pembawa acara reality show yang gemar menguntit manusia. Oh ya, tak lupa pakar foto rekayasa artis ibukota.
Sutradara yang mabuk itu puas. Kita bias.
Petugas bandara bermasker membaca jatah skenario temannya yang terlambat masuk adegan. Kabarnya ia sedang main golf di Padangdingdong (apa pula ini?). Matanya yang abu-abu bertanya: pahlawan kita itu kini adalah tersangka?
Jogja, Mei 2009
Atas Apa?
Sajak ini sedang bersembunyi
dari pena yang menari-nari
Sajak ini sedang terharu
oleh waktu yang begitu sombong dengan rasa cemburu
Sajak ini akan sakit
atau marah
atau lenyap
atau kemudian mati
Siapa peduli..
Siapa bahkan tega membaca?
Pujangganya pun lari entah kemana
Mahsyuk dalam pertapaan yang sepi
Ia terus bertanya untuk siapa harus berpuisi lagi
Ia bertanya,”Atas apa aku mengagungkannya lagi?”
Sajak-sajak itu telah durhaka
Langit pun diinjaknya
Aku ingin lari, kata pujangga
Terlambat, panggung telah poranda
oleh ode-ode lain yang lebih durhaka
Aku sudah pergi, katanya
Tapi ia terlalu ceroboh meninggalkan hatinya
Ia pun kembali
Bukan untuk menjemput hati
Ia kembali, dan berseru-seru,
dan membakar panggung
Dan ia masih lelah,
Ia masih teramat lelah ketika
memutuskan untuk membunuh waktu, yang masih saja sombong
di akhir detaknya..
Salib penyair itu, sayat wajahnya yang pernah meludahimu
Ia bahkan belum juga menemukan jawaban
“Atas apakah ini semua?”
Jogja, Juni 2009




