“Enough,” gumam Mark (Andrew Lincoln) di depan pintu rumah kecil itu, menambal hatinya sebelum terlanjur keropos. Ia adalah pria yang tersiksa karena harus menahan perasaannya kepada seorang wanita. Juliet (Keira Knightley), wanita tercantik dalam DVD itu, tak lain adalah istri dari sahabatnya, Peter (Chiwetel Ejiofor).
Pada satu malam Natal, yang penganutnya yakini bahwa everyone must tell the truth pada hari itu, Mark menemui Juliet.
Ini adalah pertemuan pertama setelah beberapa waktu sebelumnya mereka bertemu dalam situasi yang membuat hati siapapun rontok. Juliet tak puas dengan video pernikahannya dengan Peter, karena ada beberapa gambar yang menurutnya buram. Ia mendesak Mark, yang kala itu ikut merekam perhelatan mereka dengan sebuah handycam.
Mark dimata Juliet, adalah lelaki yang sama sekali tak ramah. Bahkan sekalipun ia adalah sahabat baik Peter, Mark selalu menjaga jarak dan terkesan tak bersahabat dengan Juliet. Juliet menyadari itu. Dan menurutnya, inisiatifnya untuk meminta rekaman dari Mark adalah sekaligus memperbaiki hubungan keduanya.
Keadaan berkata lain ketika rekaman yang berhasil ditemukan Juliet menjawab semuanya. Tentang sikap Mark, tentang segalanya. Keping DVD itu penuh dengan sosok Juliet. Wajahnya, ekspresinya, senyumnya, gaun pernikahannya, rambutnya yang pirang tersanggul, deretan gigi Inggrisnya yang yang membuat Mark salah tingkah.. Ia hanya merekam Juliet. Tak ada yang lain, tak juga Peter, suaminya.
Juliet bergegas membuka pintu ketika bel berbunyi di malam Natal saat ia bersama Peter.
Dan di sanalah, Mark, membawa sebuah tape dan beberapa lembar kertas putih dengan tulisan-tulisan tercetak tebal dan kapital.
“Who’s that?” tanya Peter dari dalam rumah.
Mark menempelkan telunjuk ke mulutnya, “Ssst..”
Ia kemudian menunjukkan kertas pertama, yang terbaca oleh Juliet: ‘SAY IT’S CAROL SINGERS’. Juliet mengerti.
“It’s Carol Singers!” serunya pada Peter. Ini adalah sebutan bagi penyanyi-penyanyi carol atau lagu dan hymne-hymne tentang Natal. Biasanya mereka mengetuk tiap pintu dan menyanyikannya untuk tuan rumah.
Mark mulai memutar sebuah lagu Natal tradisional yang sendu dan damai, Silent Night. Juliet membaca perlahan kertas kedua yang Mark tunjukkan. ‘WITH ANY LUCK, BY NEXT YEAR’
‘I’LL BE GOING OUT WITH ONE OF THESE GIRLS’.
Juliet tersenyum saat kertas berikutnya menampilkan gambar gadis-gadis seksi yang telanjang.
‘BUT FOR NOW LET ME SAY,’
‘WITHOUT HOPE OR AGENDA,’
‘JUST BECAUSE IT’S CHRISTMAS- (AND AT CHRISTMAS YOU TELL THE TRUTH)’
‘TO ME, YOU ARE PERFECT’. Sampai pada kalimat ini, Juliet terlihat speechless. Mereka terdiam selama beberapa detik sebelum kalimat berikutnya ditunjukkan Mark.
‘AND MY WASTED HEART WILL LOVE YOU’
‘UNTIL YOU LOOK LIKE THIS’
Keira tergelak karena setelah itu Mark menunjukkan gambar tengkorak wanita tua.
‘MERRY CHRISTMAS’, adalah kalimat yang mengakhiri lembar-lembar kertas itu. Keira membalasnya dengan terharu, yang membuat setiap perempuan tidak akan tega dengan pria di adegan itu.
“Merry Christmas,” gumam Juliet pelan.
Mark tersenyum getir, mencoba tetap berdiri tegak sekalipun kita tau hatinya lebih rumit dari algoritma manapun. Ia seperti ingin meyakinkan Juliet bahwa lelaki di depannya akan seterusnya baik-baik saja (yang siapapun tau persis bahwa pria ini sedang menangis seperti anak kecil dalam batinnya) – dengan mengacungkan dua jempol ke Juliet.
Mark membawa kembali peralatannya, lalu pergi menjauh dari pintu rumah kedua sahabatnya itu. Berjas hitam, bersepatu dan celana hitam di hari Natal, ia menenteng tape dan mengapit kertas-kertas itu. Berjalan menjauh tanpa sekalipun menoleh ke belakang untuk sekedar berjudi tentang keberuntungan. Peter adalah sahabat terbaiknya. Ia tak akan mampu berjudi untuk wanita ini.
Mencoba mensyukuri apa yang sudah ia lakukan, ia mencoba tegar berjalan.
Tapi sutradara tak akan membiarkan lelaki manapun kalah dengan menyedihkan (sekalipun Mark sudah menang dengan kejujurannya). Juliet berlari ke arahnya. Menangkup wajah Mark dengan kedua tangannya, memberinya sebuah ciuman pendek, yang mendarat di bibir. Singkat namun berharga. Tak lebih dari dua detik. Ciuman pendek yang sulit untuk tak dibenarkan dalam kisah cinta yang sebenarnya forbidden. Well, siapa yang tega?
Juliet menepuk-nepuk kerah jas Mark. Seperti seorang adik di masa Perang Dunia II yang memberi semangat kepada kakaknya sebelum pergi berperang.
Mereka sama-sama tersenyum. Ada sedih, getir. Tapi lebih dari itu ada kenyamanan setelah semuanya bisa diungkapkan. Tak ada satu pun kata lagi, dan pertemuan berakhir setelah Juliet berlari kembali ke rumahnya.
“Enough,” Mark bergumam pada dirinya sendiri, pulang menembus malam Natal di Inggris yang selalu bersalju. Sendirian dalam Natal mungkin menyakitkan. Tapi ketika kau mampu menahan rasa cinta untuk cinta yang lebih besar, kamu telah membuat Natalmu ramai oleh malaikat-malaikat yang bertepuk tangan terharu.
“Enough now..” ulangnya kembali, bijak.
Itu adalah adegan paling romantis dalam film ini, menurut saya.
Film yang disutradari Richard Curtis (Bridget Jones’s Diary, Notting Hill) ini adalah film British, dengan kebanyakan aktor-aktris asal Inggris. Diproduksi tahun 2003 oleh Universal Studios dan Studio Canal dan menganmbil setting lima bulan menjelang Natal. Love Actually sebenarnya tidak berhenti sampai pada kisah ini. Terhitung ada delapan kisah tentang orang-orang Inggris dengan ceritanya masing-masing.
Yang pertama adalah kisah seorang penyanyi lelaki tua, Billy Mack (Bill Nighy). Televisi menyebutnya ‘Si Kakek Nyentrik yang Nakal’. Ia sukses bersama manajernya, Joe (Gregor Fisher) dengan hitsnya yang meraih peringkat pertama saat Natal. Ia menggubah sedikit dari lirik lagu Love is All Around Me yang pernah dipopulerkan Wet Wet Wet.
I feel it in my fingers/I feel it in my toes/The love that’s all around me/And so the feeling grows
Bait tersebut dalam film ini diubah menjadi
I feel it in my fingers/I feel it in my toes/Christmas’ all around me/And so the feeling grows
Saat Natal, Billy rela meninggalkan pesta Elton John, melupakan gadis-gadis setengah telanjang yang mau tidur kapan saja dengannya. Dan itu dilakukannya hanya karena ia percaya bahwa seseorang harus merayakan Natal dengan orang terkasih. Ia merasa, majanernya yang selalu ia cela sebagai karyawan gendut dan jelek, adalah orang terkasih sekaligus cinta sejatinya. Mereka melewatkan Natal itu dengan menonton film porno.
Kisah kedua adalah tentang seorang Perdana Menteri Inggris, David (Hugh Grant), yang baru saja menang dalam pemilihan. Ia masih muda, ganteng, menarik, namun agak payah dalam hal perempuan. Seiring berjalannya waktu, ia jatuh cinta dengan Natalie (Martine McCutcheon), manajer catering dalam istana kementriannya. Orang-orang memanggilnya ‘gadis berpinggul besar’, kenyataan yang tidak disadari oleh David (bahkan dia lupa bahwa pinggul besar adalah penyebab ia tertarik pada gadis ini).
Dalam suatu pertemuan Perdana Menteri dengan Presiden Amerika, Natalie terlibat skandal kecil dengan Presiden negara adi kuasa tersebut. Karena kesal, David mempermalukan sang Presiden di depan konferensi pers. Ini cerita yang paling susah ditemukan realitasnya, tapi cukup romantis di beberapa adegan. Terutama saat David mencari rumah Natalie di Wandsworth, salah satu jalan terpanjang di dunia. Itu berarti ia harus mengetuk satu persatu rumah untuk mencari Natalie (hello.. didn’t you have her curriculum vitae and I’m sure you can access it anytime you want, because you are a damn Prime Minister, Mister..!). Kisah ini cukup klise dan penuh imajinasi pangeran dan gadis cantik rakyat jelatanya. Tapi karena Hugh Grant sangat ganteng, saya bisa tolerir ini.
Kisah berikutnya antara lain tentang Colin Frissel (Kris Marshall). Ia adalah lelaki Inggris yang sangat percaya bahwa gadis-gadis Amerika akan jatuh cinta dengan logat Britishnya (waw, kirain cuma saya yang suka dengar orang British berbicara dengan grammarnya yang hebat sampai rela memelototi Joe Frost, host acara Nanny yang British banget itu). Ia menyebut dirinya ‘Dewa Seks di Benua yang Salah’, karena Inggris tidak sekalipun mempertemukannya dengan cinta. Mulailah ia nekad menjelajah benua Amerika.
Dan yang pasti ada perselingkuhan. Karen (Emma Thompson), menemukan kotak perhiasan dalam jas suaminya, Harry (Alan Rickman). Ia terlanjur bahagia dan yakin hadiah itu akan diberikannya pada malam Natal. Tapi pernikahan tak selalu mulus milik dua orang bak dongeng kan?
Ada juga kisah cinta yang unik antara dua pemain stuntman untuk adegan porno. Mereka adalah Just Judy (Joanna Page) dan John (Martin Freeman). Sebenarnya kisah ini tidak terlalu penting. Tidak akan mengurangi esensi film kendati dihilangkan. Tapi lumayan memperkaya representasi cinta dengan berbagai macam latar belakang.
Jamie (Colin Firth) dan Aurelia (Lucia Moniz) adalah kisah lain yang bisa membuktikan bahwa untuk cinta, seseorang bisa melakukan apa saja. Jamie yang orang Inggris rela belajar bahasa Portugis untuk melamar Aurelia. Aurelia pun tiba-tiba menjawab lamaran itu dengan bahasa Inggris.
Tapi orang tak selalu mau berkorban demi pasangan idamannya yang telah ia tunggu bertahun-tahun. Saat ada satu kesempatan untuk berkencan dengan Karl (Rodrigo Santoro), Sarah (Laura Liney) tetap tidak bisa meninggalkan adiknya yang punya cacat mental, Michael. Kencan pertama (dan terakhir) mereka terus terganggu karena Michael punya kecenderungan menelepon Sarah tiap beberapa menit. Dan kasih sayang Sarah terhadap adiknya membuatnya rela memilih merayakan Natal di rumah sakit bersama adiknya, orang yang mengacaukan kencan pertamanya dengan pria yang telah ditunggu selama dua tahun tujuh bulan lamanya.
Kisah lain tentang Daniel (Liam Neeson) yang istrinya baru saja meninggal dunia. Ia dihadapkan dengan masalah lain selain rasa kehilangannya yang mendalam. Anak lelaki tirinya yang remaja, Sam (Thomas Sangster), sedang jatuh cinta dengan teman sekelasnya, Joanna, yang punya suara ajegilee.. dahsyat sekali. Perempuan manis berkulit hitam itu diperankan oleh Olivia Olson. Kisah tentang hubungan seorang ayah dengan anak lelakinya selalu menarik. Dalam kisah ini, Daniel harus menekan kesedihannya dan turut membantu Sam meraih cinta pertamanya. Ini menarik karena menurut saya, jatuh cinta dibawah usia tiga belas tahun adalah perasaan paling jujur dengan tindakan reaksional yang paling polos dan naïf, tetapi manis.

Sam: "Lalu bagaimana dengan kisah cintamu?" Daniel: "Sebentar lagi Claudia Schiffer akan datang, dan kamu si pengganggu kecil harus pergi karena kami akan bercinta dimanapun, termasuk di kamarmu."
Sam, dengan perasaan naksir yang dianugerahkan padanya pertama kali, membuat denyar-denyarnya memicu adrenalin naik dan membuatnya mampu menembus pertahanan bandara yang ketat hanya untuk: mencium Joanna. That’s so.. probably sweet.. (Rowan Atkinson tiba-tiba muncul sebagai pahlawan pada adegan ini, setelah sebelumnya jadi penjaga toko perhiasaan yang bikin sebal Harry).
Pada akhir film, semua tokoh dipertemukan di Bandara Heathrow, Inggris. Cerdas menurut saya. Di bandara, kau akan menemukan cinta yang sejujur-jujurnya, tanpa polesan. Sepolos Sam yang tiba-tiba beradrenalin tinggi dan membuatnya sukses menjadi pemain drum untuk memikat Joanna. Di bandara, kau tak akan punya waktu untuk berpura-pura. Bahagia, maka tertawalah. Terharu, maka menangislah. Bandara adalah tempat terakhir melepas orang-orang yang kau sayang dan melihat punggungnya menjauh dari tempatmu berdiri. Bandara adalah tempat yang membuatmu bersolek dengan sangat ajaib untuk memastikan penampilanmu meyakinkan sebelum menjemput orang terkasih.
Bandara membuatmu menangisi orang tua yang akan pergi naik haji. Menahan haru dan bahagia karena melepas kakakmu untuk bekerja di suatu negeri antah berantah, untuk perpisahaan pertama dalam hidup kalian.
Menggenggam tangan kekasihmu yang akan pergi meninggalkanmu setelah ciuman terlama yang paling menyedihkan di kamar kost. Ia menenteng koper yang mungkin ada kenangan kalian di sana.
Dan mereka bisa pulang dengan kemungkinan apa saja. Kau bisa menjemputnya kembali di bandara dengan kondisi apapun yang harus siap kamu jalani. Orang tua yang tiba-tiba meninggal, kakakmu yang datang dengan pacar barunya (dan membuatmu sadar bahwa separuh hatimu telah retak), atau kekasihmu yang datang dengan separuh hatinya tumbuh di kota lain. Dan hanya menyisakan separuh untukmu..
Bandara menjadi saksi itu. Betapa dunia sangat dinamis, tetapi bandara seperti termenung. Ia hening dalam bingar tawa, rindu dan tangis. Waktu seperti berhenti untuk memberi waktu mereka berpelukan, berciuman dan saling mengejek karena pada sebagian orang, air mata hanya punya kesempatan menetes deras di bandara.
Love is actually all around. Kalau kau masih sulit melihatnya, pergilah ke bandara, dan kerinduan akan orang-orang terdekat akan mencekam disana.







3 comments
Comments feed for this article
December 29, 2009 at 4:46 pm
alfiansyafril
aseeehhh. yang berancar-ancar jadi penulis di majalah film nih kayanya???
February 18, 2010 at 3:05 am
perempuan
dahsyattt tulisannya kerenn abiss…
*mngusap mata yg berkaca-kaca…
March 12, 2011 at 2:51 am
Rico Nainggolan
Review film yang keren banget.. ga ragu saya tulis nama n email asli saya untuk memberi komen. good job!
ini cuplikan ketika Mark mengatakan dirinya adalah Carol Singer hingga ciuman terbaik yang pernah saya tonton