Aku belajar dari para wanita pemberani yang memelihara dendamnya. Tak ada yang tak lebur oleh api amarahnya. Tak ada manusia yang bisa menjadi air baginya. Semua menjadi jauh dan gersang di depannya. Tak ada telinga yang berani meneruskan setiap suaranya, masuk ke dalam hati siapapun.

Tapi dunia akan memeluk wanita itu. Erat.

Maka, memalukan jika tak melawan.

Aku bersumpah: tidak akan membiarkan seorang pelacur pun berani menyentuh ibuku. Aku bersumpah tak akan membiarkan kebahagiaan tumbuh dari tiap jengkal tanah yang ia injak. Aku bersumpah akan membuat pelacur itu lenyap, tanpa ada yang mengingat. Mati, tanpa ada yang menangisi.

Hanya aku, ibuku dan adik-adikku yang akan mengingatnya. Kami akan mengingatnya, lebih dari ingatan pelacur seperih dan sesuram apapun akan masa lalunya yang melacuri ayahnya sendiri.

Kami akan mengingatnya, bahwa ada makhluk di bumi ini yang harus dibinasakan, lahir dan batin. Makhluk sejenis tumbuh-tumbuhan yang tak punya hati, yang tak bisa menggunakan dengan baik otaknya, yang tak mengenal fungsi akalnya.

Beruntunglah binatang, terkutuk apapun, yang masih bisa menggunakan instingnya dengan becus.

Beruntunglah manusia gila, setakbermanfaat apapun, yang masih bisa merasakan hal sakit yang membuat mereka jatuh. Yang masih bisa menikmati kesakitan tersebut dalam lakunya yang majnun.

Aku bersumpah, tiap ketidakbahagiaan, sekecil apapun, yang ia rasakan, adalah buah dari pengaduanku kepada Tuhanku, akan perempuan hina yang berani menyakiti sekaumnya, yakni ibuku.

Mulai hari ini.

Advertisement