Baru sempat mampir ke blog yang lama nggak keurus ini. Ini blog kalau ibaratnya manusia, pasti keteknya udah gondrong-gondrong.

Banyak hal yang membuatku ga punya banyak waktu dandanin blog ini. Boro-boro dandanin, nengok aja jaraaaang.. Ibarat manusia, ini blog pasti udah jadi jablay.

So, baru cek statistic pengunjung, shocking. Ada beberapa search engine term yang cukup mengejutkan. Kalau cuma satu atau dua kali ga papa ya. Tapi ini hampir tiap hari ada yang nyari artikel ‘itu’ by Google.

Buat kalian yang merasa mencari artikel ‘itu’, maaf, artikelnya memang sudah saya delete. Selamanya.

Alasannya?

Misalkan Anda mahasiswa dari species terkere dari yang pernah ada. Merantau dari desa, sewa kos yang paling murah, kalau hujan kosan ikutan banjir sampai ke kasur-kasur, kasurnya pun warisan dari penghuni kos sebelumnya. Dua semester pertama kamu bisa bertahan hidup tanpa TV, motor, laptop dan internet.

Tahun kedua kuliah kamu kerja part time di.. let’s say.. Apa ya.. Mo dibilang jaga warnet, wong dia katrok dari desa ga pernah pegang komputer kecuali kalau KRS-an di kampus. Katakanlah jaga konter pulsa. Dia nabung dan bisa beli TV. Akhirnya di kamar kosnya ada perabotan bernama TV. You know TV right? You’re aware that there’s an invention called television, and on this invention they show shows, right? *ditabok John Travolta*

Semester akhir dia butuh duit buat bayar SKS skripsi. Perabotan yang bisa dijual cuma TV. Akhirnya dia ga punya TV. Karena terlalu terbiasa dengan TV, dia jadi merasa nggak punya TV itu nggak sesuatu banget. Bisa karena biasa.

Apa yang ingin aku bilang adalah.. Kita merasakan sesuatu itu penting ketika kita sudah terbiasa. Sebelum kita pernah merasakan memiliki itu, kita ga pernah anggap itu penting. Ya nggak? Kalau selama kuliah kamu benar-benar nggak pernah punya TV, selamanya kamu akan terbiasa dengan hal itu. Sebelum 90-an, orang-orang terbiasa kirim salam lewat radio. Tahun ini, orang yang kirim salam lewat radio adalah species sejenis Pithecanthropus yang hampir punah. Dulu nggak punya HP bukan masalah. Sekarang pengemis aja punya HP. Paak.. minta Paaaak.. ==”

Begitu juga dengan kemampuan manusia menyikapi masalah. Ada orang yang menganggap nggak bisa beli baju itu nggak masalah karena ada hal lain yang lebih rumit untuk dipikirkan: cari makan. Ada orang yang menganggap kecopetan dompet yang isinya 3 juta itu bukan masalah penting karena dia sedang mengalai ancaman kebangkrutan yang lebih besar di perusahaannya.

Ada orang yang bertubi-tubi dicobakan Tuhannya dengan hal yang besar, sehingga masalah-masalah kecil ia anggap recehan. Ada orang yang telah mengalami banyak hal yang besar, yang mengancamnya kehilangan segalanya, yang membuatnya tidak lagi menganggap penting sebuah masalah yang akhirnya terlihat kecil. Ada orang yang akhirnya dengan tulus memaafkan, menghapus dendam, menghapus artikel yang berisi sumpah serapah, karena ia menganggap ada yang jauh lebih pantas untuk dianggap sebuah masalah.

Advertisement