Pada sebuah film yang kau putar, aku melihat jeruji yang mengurungmu, tercengkeram hingga ke tulang-tulang. Bumi pun tak bisa merasakan kakimu yang berusaha menapak menuju eksistensinya. Tanganmu yang terpasung, adalah yang berlubang pada telapaknya. Seakan penyihir telah mengutukmu dengan luka menganga yang di dalamnya tersemat jeluang karma ratusan abad, padahal kau tau, belum genap satu zaman kau membangun neraka.
Pada sebuah film yang kau putar, aku melihat rambutmu mengelabu hari ke hari. Bagai jarimu tersesat meraba frekuensi, yang lambat laun menghilang setelah sebelumnya ramai oleh bahana semesta.
Pada sebuah film yang kau putar, kau melupakan dari rahim siapa saja kau bermula, dan berapa kerat hati yang tercerabut berperai-perai olehmu. Menghitam memedihkan di sana-sini. Bahkan saat kau tak berkaki dan bertangan, ada saja darimu yang mengoyak tak berihat.
Pada sebuah film yang kau putar, aku menggondol lari sisa hatiku dari cabikanmu. Bertekad meludah pada sutradaramu dan memperbaiki apa yang ia tulis dan rajamkan pada ketelanjangan kita.
Film berhenti tanpa kuberhasil menyelamatkan hati-hati lain yg kurasa nyaris menjadi debu. Namun sutradaramu menunjuknya, wanita yang setangguh imalaya, sesempurna malaikat terbaik yang pernah diciptakan alam. Ia mencintaimu sama besarnya tiap hari, tanpa dendam, dengan hati yang seutuh bumi pada sesaat setelah big bang. Malaikat itu ialah ibuku. Pada sutradara, aku mengaku keliru.
Arleta Fenty
Yogyakarta, 19 Oktober 2011




Leave a comment
Comments feed for this article